UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN DIPILIH PEMPROV KALTARA UNTUK PERTEMUAN TRILATERAL HEART OF BORNEO 2017

Universitas Borneo Tarakan – Hamparan alam luas membentang di jagat khatulistiwa, hijau hutannya, biru lautnya, beragam satwanya. Pulau besar yang dengan wilayah hutan yang luas menjadi paru-paru dunia untuk kelangsungan hidup manusia. Pulau ini bernama Kalimantan (Borneo) dengan luas wilayah mencapai 743.330 km2 dan total luas wilayah hutan hujan tropis mencapai 22 juta hektar. Pulau Borneo terbagi dalam wilayah tiga negara asia tenggara yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Hampir 30% wilayahnya terletak di Indonesia yaitu berada di pulau Kalimantan. Karena letaknya yang berada di 3 negara berbeda inilah membuat Indonesia berinisiatif untuk membuat sebuah asosiasi yang bergerak untuk menjaga kelestarian hutan yang ada di wilayah pulau Borneo. Asosiasi ini bekerjasama dengan negara yang juga mempunyai hak atas hutan Borneo yaitu Malaysia dan Brunei Darussalam. Kerjasama ini dinamakan Heart of Borneo (HoB) yang terjalin sejak tahun 11 tahun yang lalu.

Hob merupakan kerjasama lintas batas antara Brunei, Indonesia, dan Malaysia untuk memunkinkan adanya konservasi dan pembangunan berkelanjutan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di pulau Borneo. Selain itu juga untuk mengurangi deforestasi, degradasi hutan, dan hilangnya keanekaragaman hayati serta ekosistem terkait. Hari ini, Selasa, 10 Okotober 2017 merupakan peringatan 11 tahun HoB yang dilaksanakan di Universitas Borneo Tarakan. Merupakan suatu kebanggan tersendiri Universitas Borneo Tarakan menjadi tempat berlangsungnya peringatan 10 tahun kegiatan trilateral ini. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 10-12 Oktober 2017. Rangkaian dari kegiatan ini berupa dialog panel bersama delegasi dari Brunei Darussalam Yang Mulia Haji Mahmud Safwan Bin Abdullah Bibi, Delegasi Indonesia Dr. Prabianto Mukti Wibowo, delegasi Malaysia Dato Sri Dr. Azimuddin Bahari serta delegasi-delegasi dari Kabupaten Malinau, Nunukan, Kapuas Hulu, dan Mahakam Hulu. Selain itu juga terdapat beberapa stand pameran yang berisi tentang dokumentasi keadaan HoB dari WWF Indonesia dan Malaysia.

Dalam pidato sambutan dan pembukaan acara HoB ini, Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Adri Patton, M.Si. mengatakan bahwa terdapat sekitar 1.3 juta hektar luas hutan yang ada di Kayan Mentarang Provinsi Kalimantan Utara. Dalam melestarikan hutan, harus menggunakan prosperity approach (pendekatan kesejahteraan). Terdapat 3 hal yang harus diperhatikan terhadap hutan yang ada di pulau Borneo yaitu yang pertama adalah pertumbuhan ekonomi yang ada di wilayah HoB, yang kedua adalah garansi tidak terjadinya kerusakan alam, dan yang ketiga adalah tidak terjadinya kerusakan sosial yang ada di masyarakat. Beliau menmbahkan bahwa seharusnya sebagai paru-paru dunia, dunia harus berkontribusi dalam pelestarian hutan yang ada di wilayah pulau Borneo. Sudah seharusnya dunia berfikir tentang penanggulangan pemanasan global dimana hanya hutan Kalimantan dan hutan Amazon yang yang menjadi paru-paru dunia saat ini. Kurangnya kontribusi dunia terhadap kesejahteraan masyarakat yang ada di wilayah HoB ini. Menurut beliau, program nawacita dari Presiden Indonesia Ir. Joko Widodo yang membangun Indonesia dari pinggiran merupakan suatu langkah cerdas dan tepat. Beliau berasumsi bahwa dengan adanya pembangunan yang bertitik fokus pada desa maka akan meminimalisir kegiatan-kegiatan perusakan hutan.

Dalam petikan wawancara, Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Adri Patton, M.Si. mengatakan bahwa garis batas yang ada di perbatasan Provinsi Kalimantan Utara adalah sepanjang 1.038 km yang hanya ditempati hanya segelintir pos pengamanan perbatasan yakni berjumlah 32 pos pengamanan perbatasan (pamtas). ‘Panjang perbatasan kita itu 1.038 kilometer namun hanya ada 32 pos pamtas ditambah lagi ada begitu banyak blank spot dan di sana lah kemungkinan besar terjadinya kegiatan-kegiatan ilegal seperti illegal logging, oleh karena itu perlu perhatian pemerintah lokal, pemerintah pusat, bhkan dunia untuk mengantisipasi masalah ini. Solusi dari masalah ini adalah melakukan pembangunan di wilayah perbatasan supaya kelestarian hutan terjaga, kalau tidak Heart of Borneo hanya tinggal kenangan’. Pembangunan di wilayah HoB harus menggunakan prinsip suistainable development yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang bagus tang berpihak pada masyarakat setempat. Sektor perekonomian, pendidikan, dan kesehatan harus terjamin sehingga membuat masyarakat yang ada di wilayah HoB dengan senang hati menjaga kelestarian hutan Borneo sebagai paru-paru dunia.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara sengaja menunjuk Universitas Borneo Tarakan karena kegiatan ini mempunyai nilai akademik dan ilmiah sekaligus memberi pendidikan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus yang menjaga, memelihara, dan melakukan kensevasi terhadap lingkungan hidup dan hutan. Ketidakpedulian terhadap kelestarian hutan akan merusak stabilisator lingkungan yang ada di bumi. Hutan adalah penjaga kontinuitas suplai oksigen kepada semua makhluk hidup. Kerusakan hutan adalah ancaman serius bagi makhluk hidup karena hal ini dapat membuat punah hewan-hewan yang kehilangan habitatnya karena kerusakan hutan. Rusaknya habitat hewan-hewan ini akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia karena adanya keterkaitan rantai makanan. Jika habitat asli hewan yang ada di hutan rusak maka hewan-hewan tersebut juga kehilangan mangsa untuk kelangsungan hidup mereka dan ini membuat mereka akan keluar menuju pemukiman penduduk sebagai alternatif mereka untuk mencari mangsa. Hutan di Kalimantan tidak hanya menjadi paru-paru dunia namun juga sebagai sarana pariwisata (ecotourism) untuk membantu perekonomian penduduk yang tinggal area hutan Kalimantan. Selain itu juga yang berasal dari hutan dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sehingga menurut Gubernur Kalimantan Utara, Irianto Lambrie pertemuan HoB ini adalah mementum tepat untuk membangun komitmen menjaga dan melestarikan hutan yang ada di Pulau Kalimantan agar tetap menjadi paru-paru dunia.

Menurut Irwan Gunawan, Direktur Program Kalimantan WWF Indonesia menyatakan bahwa peringatan 11 tahun HoB ini bertitik fokus pada pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di wilayah hutan HoB. Selain itu, masyarakat adat yang ada di wilayah HoB mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari kekayaan alam dari hutan yang ada di wilayah HoB. Kemudian pentingnya keseimbangan pembangunan ekonomi dengan pertimbangan-pertimbangan lingkungan dan sosial juga dibahas dalam dialog trilateral ini. Menurutnya pembangunan masyarakat bukan sekedar pembangunan infrastruktur namun lebih kepada bagaimana pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain memberikan akses yang adil kepada masyarakat terhadap sumber daya alam. Sudah seharusnya masyarakat adat yang ada di HoB tidak hanya menjadi penonton terhadap industri-industri ekstraktif (tambang). Selama ini masyarakat belum mendapatkan manfaat yang signifikan dari HoB. Justru perusahaan-perusahaan yang melakukan eksplorasi hutan yang mendapatkan banyak keuntungan. Pemerintah seharusnya berkomitmen memberikan kebijakan supaya generasi berikutnya mendapatkan manfaat yang sama dengan yang dinikmati generasi saat ini.

Stefan W mengatakan bahwa hutan di kawasan HoB mengalami degradasi dari tahun ke tahun. Jika hal ini terjadi, diperkirakan pada tahun 2020 hutan di daratan rendah akan musnah. Selama kurun 7 tahun, wilayah hutan di HoB berkurang sebesar 17% dari total keseluruhan luas wilayah HoB. Dengan berkurangnya luas hutan yang ada di HoB ini membuat pemanasan global semakin terasa. Dampak tersebut juga terlihat dari sulitnya memprediksi terjadinya pergantian musim di Indonesia. Upaya-upaya yang harus dilakukan adalah sinergi antara WWF dengan pemerintah karena pemerintah merupakan pemangku kebijakan yang ada di masyarakat. WWF juga melakukan advokasi mengenai tata ruang di wilayah provinsi dan kabupaten yang menjadi sangat fundamental. Pelaksanaan tata ruang yang mengedepankan wilayah konservatif menjadi poin utama dalam advokasi ini sehingga pembangunan tidak akan mengganggu kelestarian hutan HoB.

Kelestarian hutan yang ada di kawasan HoB merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi untuk mencapai tujuan bersama. Karena 22% luas wilayah HoB berada di Provinsi Kalimantan Utara, sudah seharusnya pembangunan di garis batas antara Indonesia-Malaysia dipercepat oleh pemerintah baik pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Komitmen untuk menjaga agar hutan yang ada di kawasan HoB juga harus dipegang teguh oleh seluruh masyarakat Kalimantan Utara supaya tetap terjaga rimbunnya pepohonan yang tinggi, indahnya burung enggang ‘bernyanyi’, dan ramahnya masyarakat suku asli Kalimantan tetap lestari. (gj10)